Tilik Bayi

Kemarin, sebelum matahari terbit menyemburkan sinarnya meratai bumi, aku sudah mandi, tidak seperti biasanya. Hari ini ikut ndempel Mak Cas "tilik bayi".

Pagi masih buta, semesta masih terlihat gelap, hanya remang-remang lampu jalanan saja yang berhasil menerangi beberapa tempat.

Oh iya, perkenalkan, namaku Akbar, aku masih jomblo, tapi tadi sebelum berangkat aku sudah sarapan tanpa harus diingatkan.

Semua bekal sudah diangkut di mobil, sebelum ke tujuan utama, kami mampir dulu ke Rancaan, mampir sebentar, kebetulan lagi ada acara Puputan disana.

Kami berangkat lewat bangkir, alias lewat jalur 'jembatan' yang cuma bisa dilewati satu mobil. Jadi, kalo ada dua mobil, salah satu harus antri. Terus nyebrang sungai Cimanuk, untungnya sudah ada 'jembatan lagi' yang menghubungkan antara Bangkir Kidul dan Sindang Kerta. Bayangkan kalau tidak ada jembatan, mungkin mobil-mobil saat ini dilengkapi dengan sirip dan insang, supaya bisa langsung nyebrang langsung jika tiba-tiba di depan ada sungai lagi.

Pukul 07.00 kami tiba di Rancaan, setelah ngopi-ngopi dan mbadog ini-itu, akhirnya kami pamit meneruskan perjalanan. Aku pasang earphone karena tahu perjalanan ini akan memakan waktu 3-4 jam an. Durasi yang tidak sebentar, kalau buat nonton film, bisa ngatamin dua film nih, pikirku. Tapi aku urungkan, soalnya tidak pewe aja gitu nonton film di dalam kendaraan, gojlak-gojlak, bikin mata mblenger. Akhirnya mataku lirik kanan-kiri mencari sesuatu yang entah apapun itu, saya tidak tahu.

Tinn tinnnn....

Suara klakson mobil bercat biru itu mengeluarkan bunyi berkali-kali memberikan kode kepada pengendara motor di depannya yang terlihat santai-santai saja, maklum dua sejoli itu sepertinya diliputi asmara, mereka anggap jalanan ini cuma milik mereka berdua.

Tinnnn tinnnn... bunyi lagi, seakan si pengemudi bilang: punten mas, mbak, numpang lewaaattt, Janc*k!. Aku yang melihat adegan itu hanya bisa geleng-geleng rambut, cuma rambutnya loh ya, kepala saya diam.

Mobil tetap melaju melintasi Persawahan, Empang, Rumah², Alfamart, Warung, Angkringan, Njembatan, dll. Bacanya jangan disingkat ya, dan monmaap itu yang jembatan pakai N, ga ada konspirasi sih, cuma biar pas aja gitu.

Sekilas aku membaca tulisan "SUKRA" dari spanduk-spanduk yang berjejer menempel di depan beberapa toko, artinya sebentar lagi pucuk Indramayu dan memasuki Subang. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya banyak orang berjejer di pinggir jembatan membawa sapu lidi untuk mencokre-cokre uang yang dilempar dari beberapa pengemudi kendaraan. "Oh, sudah memasuki kota Subang." gumamku.

Batas kota Indramayu dan Subang ini dipisahkan oleh jembatan yang konon keramat. Oleh karena itu, beberapa pengemudi yakin, melemparkan sejumlah uang merupakan salah satu kunci selamat. Padahal ya emang bener, dalam Islam itu sedekah dapat menjadi kifarat dan bisa menyelamatkan kita dari marabahaya. Tergantung niat dan caranya. Kalau niatnya meminta selamat pada "makhluk" yg ada disitu, ya musyrik woi. Tapi, melemparkan uang ke pinggir jalan adalah cara yang tidak baik untuk sedekah. Alih-alih beramal, malah bisa mencelakai si pengambil. Yaudah sih, seterah kalean aja. Atur dah, aku mau lanjut dengerin musik.

And I will take

You in my arms

And hold you right where you belong

Till the day my life is through

This I promise you

This I promise you

Lagu yang dinyanyikan oleh NSYNC ini berhasil menyeretku ke masa lalu. Manis, tapi cuma bisa dikenang. Aku lupa kalau sekarang tubuhku berada di dalam mobil, dan baru tersadar saat laju mobil diperlambat. "Eh ada apa ini?" Aku melihat ke depan. Ada dua orang melambai mengisyaratkan supaya pelan-pelan. Beberapa orang di sebelah kiri dan tengah jalan membawa seser sambil manggut-manggut. Aku melihat banner besar bertuliskan, "Pembangunan Masjid Darut Taqwa". Entah penggalangan dana seperti ini dimulai sejak kapan, yang jelas saya bertakon-takon, apakah itu efektif untuk pembangunan masjid yang notabene milik umat Islam, atau ada cara lain yang lebih elegan?

Sebelum memasuki tol Cikampek, saya rasa tidak cuma sekali dua kali penggalangan dana pembangunan masjid itu digelar, bahkan lebih dari 3 kali. Untuk memastikan hal ini, saya menoleh ke jok belakang dan bertanya pada Mas Jon yg duduk sebelah Mak Cas.

"Ana pira mas?"

"Sejauh ini, Ana enem, Bar." Jawabnya sambil mengingat-ingat dan menggerakkan jarinya seperti menghitung. Mas Jon ini memang sedikit aneh, bahkan dia menulis detail tempatnya, terlihat saat dia melanjutkan obrolan,

"Pertama deket ATM BRI Ciberes Subang, Kedua depan SPBE Sukasari (yang ini pake seragam warna hijau menyala), ketiga depan Masjid Darut Taqwa Sukasari, keempat sebelum Alfamart Sukamahi, kelima untuk pembangunan Mushola, dan yg terakhir  dekat Ponpes Miftahul Ulum kalau tidak salah."

Mobil melesat membelah panas matahari yang mulai terik. Di depan, palang pintu tol menyambut dg lambaian. Setelah keluar tol, memasuki kawasan, belok kanan dan memasuki perumahan, sampailah kami di tempat tujuan. Kami disambut dengan senyuman yg mengembang.

Melihat Dedek Bayi yang tertidur pulas, rasanya lega, seakan capek dalam perjalanan terbayarkan, menguap begitu saja. Dalam hati aku membaca sholawat dan merapal beberapa doa untuk baby kecil yang sehat dan lucu ini. Semoga kelak menjadi orang yang sholeh, berbakti pada orang tua, dan bermanfaat bagi sesama.

Usai makan bersama, bercengkrama, dan beristirahat seperlunya, rombongan penilik pamit undur diri. Pulang. Sedangkan aku akan tinggal disini ikut Mak Cas yang mau bantu-bantu mengurus cucu ke-duanya barang sejenak. Yey, anggap aja ini liburan lah ya.

Yang udah baca dapat salam dari dedek bayi nich, Jangan lupa makan katanya, jaga kesehatan. hehe


Tidak ada komentar:

Posting Komentar