PENGARUH FINANSIAL TERHADAP SEMANGAT BELAJAR
Bisa meneruskan belajar di perguruan tinggi
merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi sebagian orang. Lebih-lebih bagi
mereka yang ekonominya kurang memadai. Butuh perjuangan dan kesungguhan yang
ekstra agar tetap berada di lingkungan kampus dan mempertahankan kuliah sampai
selesai.
![]() |
| Warjono, Indramayu: 2015 |
Berbagai cara dan profesi mereka lakukan agar
bisa bertahan dan demi mencapai tujuan. Secara tidak langsung mereka telah
belajar bertahan dalam menjalani kerasnya kehidupan dan belajar memahami makna
perjuangan. Pahit getirnya perjalanan hidup telah ia kecap dengan penuh
keikhlasan dan kesabaran demi mencapai sebuah tujuan sebuah kemuliaan.
Semua itu mereka lakukan demi mencapai cita-cita yang mereka harapkan, dengan harapan yang mereka inginkan, dengan keinginan yang mereka impikan, dan dengan impian yang akan mereka wujudkan. dengan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dapat merubah perilaku menjadi baik, mendongkrak status sosial, meninggikan derajat pemiliknya.
“Ada Langit Ada Bumi” demikian pepatah mengatakan, Penulis meng-qiyas-kan langit dan bumi dalam hal ekonomi. Mahasiswa yang sekarang berada di ‘langit’ pasti tidak seperti yang berada di ‘bumi’. Kebutuhan yang berhubungan dengan administrasi perkuliahan tidak sedikitpun menghembuskan angin kedalam saku-nya. apapun yang mereka inginkan untuk menunjang pekerjaan dan tugas kampus, mudah mereka dapatkan. Seperti laptop, motor, hp, tablet, dan gadged lain yang diperlukan. Mereka bisa memenuhi apa saja yang berhubungan dengan materi.
Kenyataan yang ada, tidak semua yang diberi kelebihan nikmat dan rizky digunakan dalam hal yang semestinya. Mereka malah melakukan sebaliknya. Tidak bisa memanfaatkan kekayaannya. Mereka gunakan untuk hura-hura, tidak jelas, dan hanya memenuhi keinginan nafsunya. Uang yang seharusnya untuk membayar administrasi perkuliahan, mereka gunakan untuk keperluan lain yang tidak ada manfaatnya, seperti pesta. dll.
Oleh sebab itulah penulis meneliti penyebab ketimpanga ini, yang kurang mampu semangat, sedangkan mereka yang mampu justru menyepelekan.
Selain itu juga, di bawah akan dijelaskan mengenai bagaimana cara memaksimalkan waktu selama masa perkuliahan, agar mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak terbuang sia-sia.
Pembahasan
“Apakah bisa orang miskin kuliah?”,
pertanyaan ini mungkin sering muncul dibenak para siswa-siswi kelas XII SMA,
MA, dan yang sederajat yang ingin terus belajar. Mereka membayangkan betapa
enaknya bisa kuliah, berada di lingkungan kampus, dan menjadi mahasiswa.
Bayangan ini sejenak menghilang saat
mengetahui latar belakang dari siswa tersebut, bagi siswa yang kurang mampu
mereka sadar bahwa orang tuanya tidak akan mampu untuk membayar biaya kuliah,
membelikan keperluan-keperluan kuliah untuk mereka, peralatan-peralatan
perkulian dan lain-lain. Untuk keperluan makan sehari-hari saja kadang-kadang
masih berhutang kepada tetangga. Tidak ada pendapatan tetap dan masih
mendapatkan penghasilan di bawah kebutuhan sehari-hari.
Di lain sisi, mereka yang hidup di
tengah-tengah keluarga yang berkecukupan, tenang-tenang saja, karena tidak ada
masalah dalam urusan biaya. Mereka bebas memilih universitas yang mereka
inginkan, membeli peralatan perkuliahan, dan memenuhi kebutuhan mereka.
Pengaruh Terhadap Kesungguhan Belajar
Kondisi serba kekurangan bukanlah alasan untuk berhenti mencari ilmu, tiada batasa
ما أفلح في العلم إلا من طلبه في القلة
"Tiada kebahagiaan dalam menuntut ilmu
kecuali mereka yang ketika belajar dalam kondisi serba kekurangan”
"Pelajarilah oleh kalian ilmu pengetahuan
karena mempelajarinya merupakan suatu kebaikan, mencarinya adalah ibadah,
muzakarah (mendiskusikannya) terhadapnya lasana tasbih, membahasnya merupakan
jihad, memberikannya (dengan kemurahan hati) dianggap mendekatkan diri (kepada
Allah), dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti berarti shodaqah” Orang
yang miskin lebih semangat dalam belajar dan lebih bekerja keras dalam belajar,
Mungkin ketika di kampus mahasiswa yang kurang
mampu merasa minder karena melihat teman-temannya mempunyai laptop, sedangkan
dia tidak punya, hal ini berpengaruh terhadap semangat belajarnya, tetapi bagi mereka
yang sadar, dia akan punya semangat yang
tinggi tidak mudah putus asa, dia semakin berusaha harus bisa, melebihi mereka
yang serba ada.
Sedangkan orang kaya karena dia merasa
hidupnya sudah terjamin dan dalam keadaan berkecukupan serba enak, sehingga
kurang dewasa dalam pemikirannya jadi
dia meremehkan belajar.
Penulis meneliti dari lapangan bahwa ada dua
kemungkinan pada masing masing jenis mahasiswa, baik yang serba kekurangan
maupun yang serba ada.
Pertama, Putus Harapan. Karena tidak mempunyai biaya atau modal
untuk melanjutkan kuliah, sehingga dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan
mencari pekerjaan. Seorang teman saya ada keluar dari
Kedua, Justru karena tidak ada modal dan biaya lebih
menjadikan dia lebih dewasa sehingga memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Jack Ma adalah seorang laki-laki miskin yang
berubah menjadi seseorang yang kaya raya. Ia dibesarkan dalam sebuah komunitas
miskin di Tiongkok, pernah mengalami gagal ujian masuk perguruan tinggi dua
kali, namun berkat usahanya yang keras dengan belajar lebih giat, ia akhirnya
lulus ujian ketiga dan resmi menjadi mahasiswa Hangzhou Teacher’s Institute
(Sebuah Perguruan Tinggi khusus bidang pendidikan).[1]
Tim yang dibentuknya menjadi tim yang solid
dan berjiwa juang yang tinggi, “Kita akan menciptakannya karena kita masih muda
dan kita tidak akan pernah, tidak akan pernah MENYERAH!” seru Ma kepada timnya.
Untuk orang kaya Tergantung pribadi mereka
masing-masing, apakah mereka mau memanfaatkan nikmat tersebut untuk mendapatkan
sesuatu yang lebih baik atau tidak.
Ternyata dari data di atas, kekayaan tidak
mempengaruhi kesuksesan dan kesungguhan dalam belajar dan kemiskinan tidak menentukan
keterpurukan dalam menggapai cita-cita dan meruntuhka semangat.
Membuat belajar lebih semangat !
Kuliah adalah jembatan panjang dan sukses berada di ujungnya. Saat memutuskan untuk terjun dari tengah jembatan maka kita butuh memikirkan bagaimana caranya mencapai ujung jembatan (sukses) dari kolong jembatan tersebut.
Terutama bagi kamu yang masih galau untuk
meneruskan kuliah atau tidak, tentukan secepatnya! buat prioritas, jangan
sampai menyesal saat kau telah terjun dari atas jembatan. Buatlah prioritas
dengan menuliskan target-target yang harus dicapai dalam 1-2 tahun agar kita
tetap termotivasi.saya penasaran dengan semangat belajar mahasiswa di Kampus,
sebagian ada yang saya wawancarai, ada yang saya sms, saya inbok, sebisa saya
mengumpulkan data dari mereka, hasilnya sebagai berikut.
Hal-hal yang membuat semangat belajar di
antaranya.
1. Adanya motivasi dari orang lain
Motivasi merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi belajar dan hasil belajar seseorang. Motivasi belajar dapat
menunjang akan hasil yang dicapai seseorang agar memuaskan dan maksimal. Motivasi
yang tinggi akan mendorong seseorang belajar lebih giat lagi dan frekuensi
belajarnya menjadi semakin meningkat.
2. Ingat orang tua
Perjuangan orang tua demi membahagiakan anaknya, tiada
terbatas, seorang ayah siang malam direwangi banting tulang untuk
mendapatkan rizky agar bisa menafkahi keluarga dan menyekolahkan anaknya, do’a
ibu yang dilantunkan dikeheningan malam ditujukan agar keluarga dan anaknya
selalu dalam kebaikan, kebahagiaan dan lindunganNya. Semua itu hendaknya bisa
kita jadikan catatan besar yang terlukis di ruang belajar kita agar kita tau,
betapa orang tua kita mengharapkan kita agar menjadi orang yang baik, berbudi,
dan berguna, serta bahagia dunia dan akhirat. Sehingga dengan begitu kita akan
terpacu dan lebih semangat untuk belajar.
3. Ingat tujuan di sini mau apa dan yang dicari
itu apa ?
Niat awal mencari ilmu dengan ilmu tersebut supaya lebih dekat dengan
Allah, memperbaiki moral anak-anak generasi bangsa, dan memantapkan iman.
Saya sempat survey ke beberapa SMA/sederajat, lalu
menyakan siapa yang ingin kuliah, hampir semua siswa/i di kelas tersebut angkat
tangan, bukan hanya sekolah di kota, tetapi sekolah di daerah-daerah kabupaten
pun punya semangat yang sama. Di daerah dimana belum setiap rumah punya kamar
mandi sendiri. Di daerah dimana belum semua siswa/i-nya yang sebelum pergi
sekolah sarapan terlebih dahulu. Di daerah dimana siswa/i-nya ikhlas belajar
walaupun setiap tahun mereka tidak berganti seragam baru, sepatu baru, dan tas
baru. Hal-hal seperti itu mereka jalani dengan ikhlas di saat bersamaan siswa/i
di kota sedang menangis pada orangtuanya untuk dibelikan motor.
Semuanya
punya antusiasme untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tapi di saat
itu juga mereka punya kekhawatiran tidak bisa melanjutkan pendidikan.
“Orangtua
kami hanya petani kak, ga sanggup bayar kuliah”, pintanya
Saya
Cuma menjawab,
“Orang
yang punya mimpi besar harus diiringi dengan semangat besar, usaha yang besar,
doa yang besar, dan berserah diri kepada Tuhan.”
Kemudian saya berbagi beberapa tips ini kepada mereka (yang mana ini berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman saya di kampus):
Kemudian saya berbagi beberapa tips ini kepada mereka (yang mana ini berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman saya di kampus):
Teman saya, ada yang berkata “Saya dulu mau kuliah modal nekat. Kenapa saya
katakan nekat? Karena keluarga saya termasuk keluarga miskin. Ayah sudah
meninggal disaat saya dan adik-adik masih butuh biaya sekolah. Sementara ibu
harus banting tulang bekerja demi bisa menyambung hidup kami anak-anaknya.
Bukankah tak pernah ada orang yang bermimpi
lahir jadi miskin, kere, tak punya apa-apa, tapi gara-gara itu semua mereka tak
diberi hak untuk pintar, cerdas, kreatif, dan inovatif ?!
Gambaran Mahasiswa Perguruan Tinggi
Mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi sangatlah bervariasi, baik dari segi motivasi dan latar belakang social ekonomi. Maman S. Mahayana (dalam Mahasiswa Menggugat, 1998) membagi menjadi 6 kategori mahasiswa :
1. Mahasiswa underdog, umumnya
datang dari pedesaan, merasa tidak ada yang dibanggakan, berusaha menjadi
mahasiswa yang baik, motivasinya tinggi untuk kuliah
2. Mahasiswa salon, datang dari
kota dan keluarga berada, kuliah sekedar agar tidak menganggur, bersiap
melanjutkan usaha orang tua, kampus sebagai tempat pamer kendaraan, tujuannya
status mahasiswa bukan ilmu
3. Anak mamih, dari keluarga
menengah atas, sungguh-sungguh kuliah tapi tidak peduli kegiatan non-akademis,
tujuannya segera menyelesaikan dengan baik.
4. Mahasiswa jalan pintas,
motivasinya hanya memperoleh gelar, sehingga menggunakan berbagai cara untuk
mendapat nilai baik.
5. Mahasiswa pekerja, dari
keluarga pas-pasan atau karyawan yang ingin merubah nasib, biasanya
sungguh-sungguh mengikuti kuliah, sering juga mengikuti kegiatan kemahasiswaan.
6. Mahasiswa unggulan, berasal
dari keluarga terpelajar, secara ekonomi dan intelektual bagus, sering memanfaatkan
masa kuliah untuk menempa diri dengan berorganisasi atau kegiatan ilmiah
lainnya.
TIPS
Kalo
dibiarkan kebiasaan seperti ini bahaya nih. Bisa-bisa menjadi mahasiswa
abadi. *amit-amit
Untuk
itu diperlukan strategi khusus untuk menanganinya yaitu dengan
merubah pola belajar, mengatur waktu dengan baik, jangan menunda mengerjakan
tugas, jangan males, kurangi bermain dan rajin beribadah serta selalu berdoa
kepada Allah agar diberi kelancaran dalam menjalani semua ini. InsyaAllah kalo
sungguh-sungguh dalam belajar semua akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan
yang kita harapkan. Amien..
Ahmad Faiz Ahmad, 30 jus dalam genggaman,
Jakarta: Pustaka Balqis,
2011
Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an, Jogjakarta: Diva Press, 2011
Qoni’ah Naylina, “Skripsi Studi Komparasi
Antara Jaudah Hafalan Al-Qur’an pada Santri Takhasus Dengan Santri Non Takhasus
di Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur’an Purwoyoso Ngalihan Semarang”, Semarang:
Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Walisongo Semarang, 2013
LAMPIRAN
1. Rumusan
metode pengumpulan data
Data
|
Sumber
|
Teknik
|
Latar belakang
keinginan tahfidh (niat awal sebelum tahfidh Alqur’an)
|
Para santri tahfidh
|
Wawancara
Diskusi
Buku
|
Pengaruh hafalan terhadap
prestasi santri
|
Para santri non
tahassus (kuliah)
|
Wawancara
Buku
|
Pembagian waktu untuk
hafalan dan kuliah
|
Para santri non
takhasus
|
Wawancara
Buku
|
Jaudah hafalan santri
yang tahassus dan santri nontahassus.
|
Para santri tahfidh
tahassus dan non tahassus
|
Wawancara
Skripsi
|
2. Tulisan ini di dapatkan dari wawancara dengan :
1. Santri
Santri Tahfidz Pondok Pesantren Tahafudzul Qur’an, Purwoyoso, Ngalihan, Semarang.
2. Ahmad
Kholil, Santri Ponpes Aziziyah, Bringin, Semarang
3. Lutfi
Hakim, Santri Monash Institut, Semarang
4. Teman
teman lain yang juga tahfidz Al-Qur’an.
Daftar Pustaka
Yahya Abdul Fattah Az zawawi, Revolusi Menghafal Al-Qur’an, Surakarta: Penerbit Insan Kamil, 2010


Tidak ada komentar:
Posting Komentar