New Normal

Pukul 21:15 saya mencoba untuk melakukan hal tersulit yang hampir mustahil dilakukan akhir-akhir ini, yaitu tidur. Dengan banyak terpaksa, saya merem, melupakan dunia dan isinya, termasuk di dalamnya ada kamu, entah siapapun itu, pokoknya bayang-bayang cewek yang nanti akan saya lamar di kemudian hari.

Jarum jam terus berjalan, memutari setiap angka yang terpasang, dari angka 1 sampai 12. Sekarang sudah pukul 22.16 WIB. Artinya sudah satu jam lebih satu menit saya berusaha memejamkan mata, bergelut dengan segala keresahan dan kegamangan dunia. Dan belum berhasil!!. Mungkin butuh waktu lebih, pikirku. Masih belum menyerah, saya tetep memejamkan mata. Suara-suara alam di luar sana masih terdengar jelas, menggetarkan daun telinga. Abai, tid

 

ak saya hiraukan, berharap suara-suara itu menghilang perlahan seiring hilangnya kesadaranku.

Entah di menit keberapa saya terlelap, tanpa mimpi dan tanpa gangguan gaib (tindihen, misalnya), hanya beberapa gigitan nyamuk saja yang  masih menyisakan sedikit rasa gatal. Hingga kemudian mata saya terbuka tanpa sengaja. Ku lihat jam menunjukkan pukul 03.15 tepat. Saking senangnya, tidak henti-hentinya saya bersyukur, mengucapkan hamdalah berulang-ulang. Alhamdulillah.

Ku tatap atap, ku biarkan kesadaranku pulih perlahan, untuk beberapa saat aku mematung, membiarkan rongga-rongga nyawa kembali pada tempat semula. Nafas ku hela, istighfar ku baca. Astaghfirullahal'adziiim...

Ada amalan yang harus saya kerjakan di waktu sahur ini. Selain Qiyamullail, mendirikan dua rokaat tahajjud dan hajat, saya juga harus baca Hizib Ghozali, pemberian Abah Kiai dulu. Bukan untuk pamer ya, ngapain juga amalan dipamerkan yakan? wong yang penting itu Istiqomahnya. Barangkali diantara kalian ada yang punya amalan sama, yuk saling menguatkan, hehe

Untuk menyegarkan suasana, saya menuju jeding. Menggosok gigi pake sikat dan odol, lalu melakukan serangkaian ritual seperti: niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap sebagian kepala, dan membasuh kaki. Biar dapet bonus pahala triple combo, lakukan setiap basuhan tiga kali, berkumur, nyesep banyu keluar masuk irung (istinsyaq dan istinsyar), basuh daun telinga, and don't forget to pray after done do all of it.

Setelah segerr, saya mengambil sesuatu dari lemari, selembar kain kerudung putih  bercorak bunga berwarna campuran hijau-merah-biru untuk alas atau sajadah.  Sebuah kain yang dulu pernah menjadi saksi kisah kasih masa remaja. Selembar kain yang pemiliknya pernah melukis bunga-bunga dalam lembaran jalan hidupku. Sementara kain yang lain masih tersimpan rapi di lemari. Ada huruf W di sana, disamping tulisan merek  "Umama". Pemilik kain hitam ini pernah memberikan warna mejikuhibiniu selama empat bulan. Saya memilih kain pertama buat sajadah, kain lama, kisah lama. Sedangkan kain yg kedua masih basah, serasa baru kemarin. Padahal sudah setengah tahun yang lalu cerita dengannya berakhir.

Sajadah digelar, rokaat demi rokaat ditegakkan, entah khusyu' atau tidak saya lupa karena senang. Bagi ahli ibadah ini sudah biasa, tapi bagi saya yang masih amatiran, ini adalah hal luar biasa subhanallah. Remekan rengginang seperti saya kadar imannya masih fluktuatif atau naik-turun, belum baqoh dan unkonsisten. Maka dari itu, di akhir sholat sebelum salam saya berdoa:

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Dengan harapan, semoga dalam setiap kegundahan, hatiku ditetapkan dan dikuatkan di jalan-Nya. Jika doamu sama, mari kita aminkan bareng-bareng, Aamiin.

Usai menunaikan sholat, saya duduk khidmat. Dengan rasa malu, saya membaca istighfar pelan sambil memutar tasbih.

Meminta ampunan atas segala kekhilafan yang sering dilakukan dengan sengaja, merupakan hal terlucu dan memalukan. Untungnya, kata ustadzku dulu, Rahmat Allah lebih luas daripada dosa para pendosa. Alhamdulillah... di umur menginjak seperempat abad ini Engkau masih mengizinkan hamba menikmati sejuknya udara pagi. Terimakasih ya Allah.

Setiap "hari" adalah "baru". Kita berhak menjadi lebih baik "hari ini". Kesalahan kemarin biarlah menjadi kaca spion, cukup diambil pelajaran saja, jangan 'terlalu' direnungkan agar tidak terpenjara masa lalu. Kemarin adalah cerita, besok adalah misteri, hari ini adalah nyata. Mari hidupkan hari ini. Dinikmati baik-baik ya lurr~

Setelah istighfar satu kali putaran tasbih, saya tawashul, membaca hadhroh, kirim doa buat masyayikh, kiai, ustadz, dan guru-guruku yang selama ini telah membimbing dan mengarahkan rohaniku. Tidak ketinggalan pula Shohibul Ijazah, pemberi amalan Hizib Ghozali yang mempunyai sanad sampai tersambung ke Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Howos howos howos, semua sudah selesai. Tinggal menanti subuh.

Sambil menunggu subuh, saya bikin tulisan ini, daripada nganggur yakan? Hehe

Mau lanjut baca bukunya mbah Sapardi Djoko Damono yang berjudul "ayat-ayat api" tapi urung, gak jadi, atau batal. Soalnya kemarin habis baca puisi-puisi beliau yang ada di buku "Duka-Mu Abadi"  otakku berteriak memberontak, alias ga mudeng blass. Eh, mudeng sitik nding, sitikk tok tapi.

Tolong dong yang suka puisi, kasih tau saya biar paham, di nomer ini +62 85 797 xxx xxx, modus nih, haha WA saja ya, jangan sungkan~

Saat adzan subuh berkumandang, saya segera menuju tempat sholat, ternyata ibu sudah menunggu sambil wiridan. Saya sholat sunnah dua rokaat dulu, kemudian jama'ah subuh sama ibu.

Mengapa dua rokaat sunnah sebelum subuh itu penting?

Karena ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa: pahala dua rokaat subuh itu sama dengan dunia seisinya.

Jadi, ada cerita sedikit nih:

C = Cowok

B = Bapaknya Cewek

Suatu sore di sebuah rumah,

C: Pak, izinkan saya melamar anakmu.

B: Punya apa kamu?

C: Saya selalu sholat sunnah dua rokaat sebelum subuh, saya punya dunia seisinya, pak.

B: Okesip, besok nikah!

 

Gimana?

Kalau bapakmu kayak gitu, jangan lupa WA ya, haha

Dahlah capek, makasih buat yg udah baca~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar