Hidup itu Proses. Nikamti, Jalani, dan Terus Berbenah Diri!

Sekelumit cerita, tugas BK dari salah satu dosen. membuat pengalaman 'Bimbingan' yang pernah saya lakukan. bukan melebih-lebihkan, tetapi lebih tepatnya, beginilah alurnya, saya sajikan apa adanya. :)

kalau sedikit lebih teliti, ada yang salah dari susunan huruf pada judul, ini revisinya: :v

Hidup itu Proses. Nikmati, Jalani, dan Terus Berbenah Diri!

Sulit untuk dilupakan memang, kejadian yang selama ini selalu menjadi kenangan manis saya dengan beberapa orang terdekat. Susah sedih mereka selalu menjadi bintang kecil yang menghiasi langit malam pikiranku. Salah satu hal menarik yang tidak bisa saya pendam yaitu kepuasan salah satu teman dekat saya melawan rasa takut. Sebut saja Bayu, cerita ini bermula saat dia bertemu dengan saya di sebuah pondok pesantren.

Bayu saat itu kelas 6 Sekolah dasar. Pindah ke pondok pesantren karena ke dua orang tuanya berharap semoga bayu menjadi anak sholeh dan rajin ibadah. Berlatar belakang keluarga yang berkecukupan, dia seorang anak yang manja dan penakut. Takut dalam banyak hal, seperti takut berteman dan bergaul dengan orang lain, takut berbicara mengungkapkan keinginannya, takut ketika ditanya ustadz saat pelajaran.

Pagi itu, orang tua bayu menitipkan anaknya pada rai’isul ma’had. Mulailah dia sendirian tanpa kehangatan orang tua yang selalu memberikan apa yang dia inginkan. Kehidupan berbeda yang masih asing di mata anak SD. Kehidupan yang belajar untuk mandiri, tentunya dengan bimbingan dan pengajaran dari Kyai dan pengasuh pondok. Dia merasa takut dan sering menangis.

Saat dia menangis, saya sebagai senior atau ‘kang pondok’ selalu memberikan nasihat agar dia bisa tenang dan tidak lupa saya hibur. Senyum mengembang di wajah bocah 11 tahun itu sangat manis. Diapun tidak menangis lagi. Meskipun hampir setiap hari kejadian itu berulang-ulang, menangis-menghibur-menasihati, tetapi lambat laun dia mulai kerasan di tempat tinggal barunya dalam menuntut ilmu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tahun menggatikan bulan, dan seterusnya, dia semakin tumbuh menjadi anak yang patuh dan penurut. Mudah diatur dan tidak membangkan. Dengan ketekunan saya membimbingnya. Beberapa nasihat yang saya berikan kepadanya selalu dia kerjakan. Dia anak baik, tetapi ketakutan masih menempel pada dirinya. Yaitu takut menjadi sorotan kelas. Dia sering juara kelas, tetapi masih suka malu-malu dan menyendiri.

Perlahan saya memberikan masukan dan beberapa cara menaklukkan ketakutan berbicara di depan kelas, cara bergaul dan berteman yang baik. Setiap hari saya kasih masukan dan motivasi. Dia suka dengan sikap dan tingkah laku saya sehingga menjadikan saya sebagai kakak pembimbingnya. Dan perubahan terjadi. 

Tidak ada yang sia-sia di dunia ini ketika kita mau berusaha. Begitu juga dengan bayu, setelah dia berusaha dalam belajar dan segala hal, akhirnya dia tidak takut lagi. Setelah lulus SD dia mendaftar di sekolah menengah pertama, dan ketika kelas dua, dia berani mengemban amanah menjadi ketua osis. Jabatan yang sungguh luar biasa untuk anak seumuran dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar