Membokar Akar Persepsi Sandal Ketika Jum’atan

Membokar Akar Persepsi Sandal Ketika Jum’atan

“nek jum’atan nganggo sandal japit bae, ben nek ilang ora rugi. Mangkat gowo sandal apik, muleh gowo japit, kan plemik toh? ~koncoroto

Guru ngajiku dulu, jaman Aliyah (Madrasah Aliyah; Setingkat SMA) pernah bilang, ibadah itu terbagi berdaskan waktu, atau ada timming-nya. Ada harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Sholat fardlu, kita laksanakan tiap hari ~harian. Seminggu sekali, ada perintah Jum’atan ~mingguan. Puasa yaumul bid (sunnah) setiap tanggal 13, 14, 15 qomariyah ~bulanan. Dan tiap tahun kita merayakan hari kemenangan, tentunya setelah berperang melawan hawa nafsu dan mencegah makan minum sebulan penuh ~tahunan.

Kesempatan dan waktu yang telah ditentukan sangat disayangkan untuk disia-siakan, sebagaimana saya kutip dari cuitan twitternya Ippho Santosa, “waktu tidak bisa kita dapatkan maupun kita simpan, tetapi kita bisa memanfaatkannya.”

Sumber: Internet

Penulis menekankan pembahasan pada Jum’atan. Sangat menarik untuk dibahas, karena pandangan masyarakat tentang sandal yang dipakai sewaktu Jum’atan sangat Miring.

Pernah suatu ketika, ibarat menonton film tayangan ‘live’. Tergambarlah pemandangan beresolusi tinggi, seorang bapak-bapak celingukan mencari-cari sesuatu di teras masjid selepas jum’atan. Satu persatu jamaah meninggalkan masjid, beliau masih belum menemukan yang dicarinya. Tangannya mengelap raut wajahnya yang basah dengan keringat keputus-asaan. Beliau pulang dengan tangan hampa. *eh, kaki hampa (nyeker). Sandalnya sirna. Dan mirisnya, beliau guru SMP saya sendiri!

Banyak cerita yang bergentayangan, mungkin pembaca pernah mengalami langsung, entah itu hilang, atau ketukar dengan yang lebih -tidak bagus-. Intinya, tentang sandal. Sabar, sabar, ini cobaan. J

Pada dasarnya, Jum’atan itu merupakan ibadah, menyembah pada Allah yang menciptakan para jomblo dengan segala ratapannya, *duh. Menghadap Tuhan hendaknya berpenampilan rapi, dan berpakaian suci, termasuk menggunakan sandal yang baik dan benar sesuai EYD.

Kekhawatiran kita terhadap sesuatu yang belum terjadi merupakan kelemahan yang harus dibasmi. Seorang penyihir dalam film Fantastic Beasts and Where to Find Them mempunyai filosofi menarik, “Khawatir membuatmu menderita dua kali lipat”. Seseorang yang takut sandal sandal kerennya berubah jadi japit ‘swallow’, akan merasakan penderitaan ganda.

Cara berpikir yang salah akan mempengaruhi tingkah laku kita, jadi sangat penting untuk diperhatikan. Ada dua jenis manusia di dunia ini, yang positif dan negatif, hitam-putih, terang-gelap, selalu berpasangan sebagaimana hukum alam.

Orang yang mempunyai sifat teliti, hati-hati, dan melakukan pencegahan, akan memakai sandal rakyat yang ramah lingkungan dan nyaman di kantong (sandal japit; Swallow). Hal ini sesuai dengan slogan kedokteran, Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati. Begitupun dengan orang yang mempunyai sifat takut kehilangan, penuh perhitungan, dan Hubbu Dun-ya, akan memakai sandal yang sama, biasa-biasa saja, bahkan memilih sandal yang jelek, meskipun dia punya sandal yang baik.

Di lain sisi, masih ada orang yang memakai sandal mahal dan cool ketika Jum’atan. Mereka yakin, nikmat yang mereka terima berupa rizki, sandang, pangan, dan papan merupakan pemberian Allah, dan harus dipersembahkan kepada Allah ketika beribadah, termasuk sholat Jum’at. Toh, orang seperti ini juga mempunyai prinsip, “hilang satu tumbuh seribu”. So, ngapain takut kehilangan. Dan, adapula yang melakukan hal sama. Tetapi dengan niat dan persepsi berbeda. Mereka merasa bangga, sok keren, dan pada stadium tertentu, pamer.

Pilihan ada di tangan anda. Setiap alasan yang melatarbelakangi penggunaan sandalpun berteduh di bawah pikiran anda. apapun yang akan dipakai, masing-masing mempunyai sisi negatif dan positif, tergantung di kursi mana anda mendudukkan perkaranya. Memakai sandal baik, anda boleh berpikiran positif, juga tidak dilarang berpikiran negatif. Begitu sebaliknya, ketika anda memakai sandal kurang baik, anda pun punya dua pilihan pemikiran. Be positive!

Akhir tulisan gak jelas ini, saya tutup dengan pertanyaan gak jelas juga, :

Sandal-sandal apa yang menakutkan?


........ titt, “SANDAL BOLOOOONG!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar