cerpen amatir ini berhasil menembus
seleksi dari PMP Publisher dan dibukukan dengan judul 'berselimut dendam'
berbarengan dengan cerpen-cerpen hebat lainnya.
karena tidak ada larangan untuk diposting
di web dll. maka saya pasang di blog ini. :D
selamat membaca, dan semoga tidak kecewa
di ending nya.
Judul : Nafsu Setan Pembawa Malapetaka
Pengarang : Yusrul HanEa
Jam bergerak searah detakan jantungnya. Semakin cepat,
diburu oleh ketakutan. Pensil, buku, majalah, dan peralatan tulis lainnya yang
beberapa menit lalu tertata rapi di atas meja belajar, bertebaran memenuhi
lantai kamar. Berserakan tak karuan, senada dengan rambut gimbal yang
diacak-acaknya sendiri. “pergii... pergii... maafkan akuu” suara Aldi
terisak-isak sesenggukan, napasnya tak karuan, ia duduk bersandar di sudut
kamar meminta belas kasihan pada sosok yang nampak di hadapannya. Bajunya basah
penuh dengan keringat dingin. Sedangkan matanya masih terpejam. Ia tak berani
menatap, Gelap. Tak ada seberkas cahayapun yang diizinkannya masuk retina.
Sosok itu tetap tampak jelas. Sejelas mentari menebarkan sinarnya di pagi hari.
Aldi menggigil.
Tangan halus yang mengelus pipi Aldi sedikit
memberikan ketenangan, “Bangun Nak! Weleh-weleh, kok tidur di lantai toh?”
suara yang tidak asing itu seolah menyelamatkan Aldi dari jurang kegelapan.
Ibunya mengingatkan Aldi untuk makan malam bersama.
Setelah lulus SMA satu tahun lalu, dia
belum mendapatkan pekerjaan. Tinggal di rumah dengan ibunya, sedangkan kedua
kakaknya sudah merantau dan berkeluarga sendiri-sendiri. Dia biasa nongkrong
dengan teman-temannya di perempatan jalan. Bermain gaplek, membuang waktu
menghabiskan sisa umur. Pesan almarhum Bapaknya agar memanfaatkan waktu dan
bekerja keras untuk membahagiakan ibu terkikis oleh nikmatnya pergaulan,
terlena dengan kesia-siaan, hingga ditelan kelupaan.
Asri, nama panggilan gadis manis dari desa
sebelah itu dikabarkan menghilang seminggu yang lalu. “tidak tahu!” hanya dua
kata itu yang keluar dari lidah Aldi saat ditanya kedua orang tua Asri. Sorotan
matanya aneh, seperti menyembunyikan sesuatu. Tidak sesuai dengan yang
diucapkan.
Asri menjalin hubungan spesial dengan Aldi
sejak dua tahun lalu, ya, mereka pacaran. Aldi seorang aktivis ekskul (Ekstra
Kulikuler), dan merupakan senior Asri. Mereka dipertemukan ketika class
meeting, sebuah ajang berbagaimacam perlombaan untuk para siswa. Asri tertarik
dengan Aldi karena selain seorang aktifis, dia juga siswa berprestasi di
sekolah. Sejauh ini, hubungan mereka baik-baik saja. Aldi mulai berubah ketika
berteman dengan Anto, pemilik wilayah perempatan.
Seperti malam-malam sebelumnya. Sosok itu
muncul lagi di benak Aldi. Rambut hitam legam terurai indah di pundak makhluk
itu. Putih pakaiannya terlihat kontras dengan wajah merah marah. Sangar, geram,
dan penuh kebencian. Demikian wajah itu menampakkan.
“Kenapa kau tega Aldi?!!” suara lirih
terdengar jelas tegas, menusuk telinga. Dari jendela kamar, hujan masih bermain
dengan angin yang menerbangkan dedaunan. Aldi terpaku membisu di sudut kamar.
“Hikz, hikz.... maafkan aku Asri. Malam
minggu lalu aku khilaf. Kesadaranku hilang. Nafsulah yang membimbingku
melakukan itu. Amarahku diubun-ubun.” Tangisnya memecah hening, mengiba ampunan
pada sosok Asri di depannya.
“kau tega Aldi. Kau lebih kejam daripada
Binatang! Kau ajak aku makan malam, di tengah kesepian, kau renggut dariku
keperawananku, dan berjanji untuk mempersuntingku setelah aku lulus nanti.
Takdir berkata lain, dua bulan setelah makan malam bersama, aku hamil. Aku
merajuk padamu agar segera menikahiku. Tetapi kau malah memintaku untuk
menggugurkannya. kejam!!”
“maafkan aku... aku belum siap dan belum
bekerja.” Tukasnya merengek, merasa belum mapan dan tidak siap membangun rumah
tangga dadakan.
“Nyawa dibalas nyawa! Dukun gadungan itu
mengantarkanku pada kematian. Kau yang mendampingiku saat proses pengguguran di
gubuk pekarangan batu itu seolah acuh, dan meyakinkan penuh pada dukun itu
untuk mengeluarkan janin tak berdosa ini. Jangan pura-pura lupa!”
“Maafkan aku....” mulutnya gemetar,
mengulang-ulang kalimat itu. Sosok Asri semakin mendekat, tepat di hadapan
wajahnya. Sekalipun dengan mata terpejam, sosok ini masih nampak jelas
menyeringai.
“plak, plak, plak,...” tamparan-tamparan
halus mendarat di pipi Aldi. Ibunya menyadarkan. Mengajaknya makan malam
seperti malam-malam sebelumnya. Tergores keresahan di raut wajah teduh sang
ibu, ada pertanyaan tersimpan di kelopak matanya. Tetapi lisan enggan
mengucapkan.
Hampir sebulan berlalu, Kondisi Aldi
semakin terpuruk tak jelas. Mengoceh sendiri, tertawa puas, sesekali menangis
sesenggukan. Tetangganya heran melihat tingkah Aldi yang tiap hari menangis di
tengah pekarangan Haji Abdul yang tak ter-urus. Alang-alang, rerumputan, dan
kerupekan pekarangan memberikan kesan tak karuan, menjadikan siapa saja malas
memandang apalagi memasukinya. Kecuali Aldi.
“dia diteror hantu wanita setiap malam”
bisik Bi Ijah pada Yu Darmi yang bertanya tentang Aldi.
“kasihan Aldi, ibunya orang baik” celetuk
Mbak Daryem tetangga sebelah yang tak sengaja mendengar desas-desus mereka,
saat memilih bayam segar di tukang sayur keliling.
Bu Supri yang sejak tadi menyimak topik
pembicaraan ibu-ibu ini ikut nimbrung menimpali, “iya bu, ituu... kasihan
banget ya. Kata Udin Suami saya; kiyai, paranormal, dan dukun, entah apa itulah
istilahnya, sudah dipanggil untuk menyembuhkan Aldi. Bahkan Mbah Tarjo, dukun
desa seberang yang kondang itu tidak sanggup untuk mengusir gangguan hantu yang
mengusik Aldi.”
Malam ini terlihat berbeda. Bulan tertutup
awan tebal, angin berhembus kencang, dingin menusuk tulang, menerbangkan
dedaunan yang menari berjatuhan. Lolongan anjing dari pinggiran hutan terdengar
jelas di keheningan malam, bercampur dengan suara hewan persawahan lainnya,
terdengar mencekam, seolah menyampaikan kehadiran makhluk astral. Malam itu
tepat empat puluh hari semenjak Asri menghilang.
“Zi, siapa itu tengah malam begini jalan
sendirian?” Husni heran, tatapan matanya fokus pada lelaki itu.
Ozi, teman jaga rondanya menjawab setelah
tiga sruputan kopi ditenggaknya, “itu namanya Aldi hus, temen sekolah aku dulu,
dia orangnya baik dan pintar, tetapi sekarang kata tetangga sebelah, dia
strees, nggak waras, karena teror hantu wanita setiap malam.”
“kemana dia akan pergi larut malam
begini?” tanya Husni, mencoba mencari tahu lebih dalam tentang Aldi.
“Ustadz Karim, guru ngaji saya, pernah
melihat dia menangis-ketawa di pekarangan Haji Abdul"
“bagaimana kalau kita ikuti dia?”
“ah, jangan mencari masalah. Kita kan
sedang jaga ronda.”
“bilang aja takut!” Husni mencoba
memancing Ozi.
Umpan termakan, kailpun ditarik kencang
kegirangan. Ozi yang merasa diremehkan meng-iya-kan ajakan Husni. Merekapun
bersembunyi di balik semak-semak, mengikuti langkah kaki Aldi yang gontai
tertatih-tatih.
Angin berhembus halus di sela-sela
dedaunan. Pohon-pohon bergoyang. Dua pemuda penasaran tetap melangkahkan
kakinya. Merunduk di rerumputan, bersembunyi di balik pohon, dan menatap tajam
ke arah pemuda yang berhenti di samping pohon pisang milik Haji Abdul.
Kepulan asap tebal keluar dari dalam
tanah, tepat di depan Aldi. Wanita cantik berambut hitam legam, wajah putih
pucat terlihat geram. Marah. Tangan kirinya menimang anak, sedangkan tangan
kanannya mengelus-ngelus kepala bayi tersebut.
“Aku akan segera menyusul kalian” jerit
Aldi memecah keheningan.
Dua pasang mata yang menyaksikan adegan
dramatis ini diam-diam lari perlahan, dengan segenap keberanian yang tersisa,
mereka pergi dari lokasi tanpa suara ke Pos Ronda.
Tong tong tong tong tong tong tong tong
tong tong tong ...........
(kentongan dipukul terus: adanya bahaya)
Semua warga kampung berkumpul. Pak RT yang
masih memakai sarung menanyakan pada Ozi dan Husni. “ada apa ini?”. Setelah Pak
RT dan para warga menyimak cerita dan penjelasan dari kedua pemuda pemberani
itu, mereka berbondong-bondong menuju ke Pekarangan Haji Abdul.
“Masya Allaaah...”
“Innalillahi wa inna ilaihi
raaji’uunnn...”
“duh gustii...”
Tangis seorang ibu bercampur dengan riuh
rendah suara para warga. Menggema di angkasa raya. Suasana ribut seketika. Pak
RT menenangkan warganya yang heran dengan apa yang dilihat di hadapan mereka.
Seonggok tubuh ambruk terkulai tak
berdaya. Darah segar menetes merembes ke tanah yang sepertinya bekas galian,
terlihat karena tidak ada rumput di atasnya. Warna coklat tanah berubah merah
merekah, membasahi setiap incinya. Perutnya terkoyak menancap pada cabang pohon
nangka yang patah. Matanya melotot, menyimpan ketakutan.
“Aldiii....” ibunya menjerit histeris,
melihat anaknya meninggal dengan tragis di ujung dahan pohon nangka yang
bersebelahan dengan pohon pisang.
“Dia kaget dan tersandung batu, kemudian
terjatuh dengan perut menancap pada dahan runcing pohon nangka yang patah.”
Jelas Ozi dan Husni yang melihat kejadian sebenarnya, kepada ibu Aldi dan Warga
sekitar.
Malang nian nasibnya, karena salah
pergaulan, tega menghamili pacar tersayang dan menghabisi nyawa pacarnya secara
perlahan, lalu menguburnya di pekarangan.
Keesokan harinya, ditemukan mayat Asri di
dekat pohon pisang. Gadis yang selama ini diduga menghilang kini ditemukan
mengenaskan. Kedua mayat itu, kemudian dimakamkan dengan layak dan didoakan
oleh masyarakat.
Peristiwa ini menjadi cambuk bagi warga
sekitar agar tidak salah dalam pergaulan dan berhati-hati dengan pacaran,
karena dalam agama Islam terdapat larangan mendekati zina. Salah satunya
pacaran. Aldi dan Asri dua pemuda yang pacaran berakhir dengan dendam yang
menjemput kematian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar