Malam kamis seusai sholat Isya, lampu notifikasi di hp Xiomi saya berkedip, pertanda ada pesan masuk, entah itu dari sms ataupun whatsapp. Saya buka hp, lalu membaca pesan masuk. Ternyata darimu.
Beberapa hari setelah kita berpisah, aku dan kamu memang masih sering berkirim kabar lewat chat dan telepon via WA, terkadang juga video call. Tetapi malam itu aku merasakan sesuatu yang berbeda, “aku mau curhat” tulismu.
Aku merasa ada yang mengganjal dari kata-katamu itu. Ternyata dugaanku tepat. Saat kamu curhat, dadaku sesak. Di seberang sana, suaramu berat, air mata yang membasahi pipimu tetap saja mengalir meskipun sering kau usap.
“aku dilamar, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa!” ucapmu saat menatapku di layar android 4,7 inchi.
kamu mengorbankan dirimu, perasaanmu, dan hatimu untuk orang tua yang ingin melihat anaknya segera menikah. Kondisi dimana sepupu dan kerabat yang seumuran denganmu sudah menikah, menjadikan posisimu semakin terpojokkan. Ditambah, hubungan antara kamu dan orang tuamu yang kurang manis tidak memberikan pilihan yang menguntungkan untuk mengambil langkah dalam hidupmu di masa depan. Tetapi aku yakin, itu yang terbaik, dan doa orang tuamu akan membawamu pada kebahagiaan.
Aku mencoba untuk tetap tenang, meskipun pikiranku berantakan. Tetap lapang dada, meskipun hati terasa panas membara. Tetap tersenyum, meskipun melihatmu menangis membuat mataku perih. Aku masih diam, belum berkomentar.
Aku meyakinkanmu bahwa jodoh tidak akan tertukar. Tepatnya, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa jodoh tidak akan kemana. Temanku pernah bilang: Jodoh tidak akan kemana-mana, tapi kita harus kemana-mana dulu biar ketemu sama jodoh. Ada benarnya sih.
Empat bulan yang indah, mungkin sengaja Tuhan selipkan dalam hidupku agar aku belajar bahwa setiap kenangan yang indah, adakalanya hanya untuk dikenang semata, tidak untuk dimiliki selamanya. Kamu adalah keindahan yang hanya bisa dinikmati tanpa bisa dimiliki.
Belajar Bahasa Inggrir di Kampung Inggris Pare denganmu menjadi menyenangkan. Rutinitas jadwal sehari-hari yang padat, mulai dari hafalan vocabulary setiap pagi sampai microteaching di malam hari membuat pikiran penat dan tertekan, tetapi setelah mengenal dekat sosokmu, aku menjalaninya dengan penuh semangat dan kegembiraan. Bucin? mungkin iya
Program Beasiswa 3MP +1 menjadikan kita semakin dekat dengan sendirinya. Pasalnya, setiap hari kita bertemu, pagi sampai sore. Dalam satu kelas, suasana, kondisi, dan lingkungan yang sama. Nikmat mana lagi yang aku dustakan, coba? Hehe
Bulan pertama, camp (tempat tinggal) cewek dan cowok terpisah. Camp cowok menyatu dengan tempat belajar: kelas dan aula multimedia, sedangkan camp cewek terpisah sekitar 50 meter ke arah timur dari camp cowok. Tapi tak apa, pusat kegiatan kita sama. Bisa bareng terus dalam setiap kegiatan belajar mengajar.
Kamu seperti ibu, mengayomi dan melayani. Bahkan sebagian anak generasi memanggilmu ‘Bunda’. Tidak berlebihan sih, tapi aku geli saat mendengarnya.
Tidak terhitung berapa kali kita makan mie instan bareng. Aku yang masak atas permintaanmu, katamu: masakanku enak. Aku mengernyitkan dahi, makhluk dari dimensi mana yang tidak tahu kalau mie instan itu sudah sesuai takaran bumbunya?, cara masaknya pun sederhana, tinggal panaskan air sampai mblubuk-mblubuk, masukkan mie ke dalam panci, aduk bumbu di dalam mangkuk, angkat dan masukkan mie ke dalam mangkuk, lalu aduk hingga bumbu merata dan menyatu dengan mie. Nyamm
Aku masih ingat, kamu paling suka sama indomie jumbo dengan irisan tomat pakai telur. Kita biasanya makan mie di depan kamar camp cowok. Menyantapnya sambil bercerita.
Minggu terakhir sebelum Generation Party, kita disibukkan dengan berbagaimacam kegiatan yang menyangkut upacara perpisahan tersebut. Untuk mensukseskan acara itu, siang malam kita latihan Coral Speaking, menghafalkan beberapa bait yang sudah dibagi, dan memperagakan bersama biar kompak. Selain menjadi peserta wisuda, kita juga bertanggungjawab menjadi panitia, mulai dari MC, Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an, Sambutan, dan Hiburan.
Saat mendekorasi ruangan, kita diberi hak penuh untuk mengakses ruang multimedia sampai malem. Canda, tawa, dan bahagia berhamburan di ruangan itu. Kita sangat senang karena sebentar lagi, program belajar kita selesai. Aku masih ingat senyummu, dan aku juga masih hafal marahmu.
Sore itu, kamu hendak pergi ke pasar sendirian untuk membeli bahan makanan buat makan malam kita nanti. Aku menawarkan diri. Kamu menolak dan berdalih bisa berangkat sendiri. Sebenarnya rasa khawatirku sedikit, karena aku tahu kamu wanita tangguh dan mandiri, tapi aku bersembunyi dibalik rasa khawatirku dan memaksamu agar aku ikut denganmu. Akhirnya kita gontok-gontok an, aku maksa, kamu larang. Finally, kamu mengalah dan membiarkan aku menemanimu ke pasar. Dalam hati aku tidak pernah berhenti bersyukur karena bisa menjagamu. Eh bukan, lebih tepatnya karena aku bisa berboncengan denganmu.
Kapan hari di waktu malam, Dek Fatimah (Putri dari Manager Kursus) mendapatkan tugas dari TK untuk membawa bunga dalam pot. Aku dan kamu ditugaskan mencari itu di took bunga terdekat. Dek Fatimah ikut dengan kita. Malam itu meskipun udara berhembus dingin, tetapi aku merasa hangat. Ya, karena bersama kamu. Duh, lebay banget dah! Hehe
Manusia memang lucu, kadang tiba-tiba menjadi puitis saat perasaannya kritis, menjadi bijak saat merasa harga dirinya terinjak-injak, tetapi kebanyakaan dari manusia hanya bisa pasrah, saat hatinya patah. Rotasi bumi seakan berhenti.
Masih banyak yang belum sempat saya tuliskan disini, tentang es tebu dan batagor, tentang kita yang suka berdebat, tentang kamu yang suka mengalah, dan yang paling wuw adalah tentang menanti senja di Gumul. Berlari, naik menara, bercerita sampai di suruh turun sama petugasnya, dan endingnya di tengah perjalanan pulang kita sedikit marahan karena kamu menolak lututnya aku elus-elus, hahaha. Tapi malamnya pas kita nongki bareng anak-anak, kita udah baikan loh ya. Hehe
Intinya, tulisan ini aku buat untuk seseorang yang aku panggil Miss Wulan. Terimakasih ya, karena sudah mampir dan memberikan warna dalam hidupku. Aku sadar, terkadang seseorang dihadirkan bukan untuk kita miliki, tetapi hanya untuk melengkapi alur cerita kita di dunia ini. Salam~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar