Cinta, Masa Kini dan Implementasinya dalam Kehidupan

Negasi Implementasi Cinta Masa Kini

Istilah cinta sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita terutama dikalangan kawula muda. Cinta sudah acap kali diucapkan oleh kawula muda yang mengimplementasikannya pada istilah “pacaran”.  Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya cinta merupakan fitrah dan nikmat yang telah dianugrahkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Hakikat cinta adalah hati, cinta itu terdapat di dalam hati, sedangkan hati dalam bahasa Arab yaitu qalbun yang artinya dalam bahasa Jawa adalah “bolak-balik” atau dalam bahasa Indonesianya adalah “rasa tak menentu”. Maka sebenarnya cinta itu tidak dapat diketahui dan itu tergantung dari orang-orang yang merasakannya. Jika cintanya tersebut membuatnya merasa bahagia dan tenang, maka kecintaan tersebut mengandung kebaikan. Kemudian jika kecintaan tersebut justru menjadikan seseorang menafikan setiap hukum-hukum Allah, maka cinta yang seperti itu hanya akan membawa seseorang pada kesengsaraan.
Contoh kecil  yang sering kita jumpai, yaitu kita sering mendengarnya dari  syair-syair lagu, entah lagu dimasa lampau ataupun masa sekarang. Didalamnya banyak mengisahkan cerita-cerita cinta yang seakan akan bersifat fiktif karena terlalu jauh dalam hal penggunaan majas. Dengan relita di lapangan yang seperti ini, justru cinta yang seperti ini hanya akan membutakan setiap mata orang yang mencinta, menulikan telinganya, membekukan sel neuron otaknya, dan seterusnya. Mengapa demikian?, kembali pada yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa adanya pengimplementasian cinta yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam hanya akan menimbulkan madlarat (bahaya) karena maksiat menjadi substansi dan bumbu dalan cinta tersebut. Kamudian adanya istilah ta’aruf yang seakan-akan menjadi dasar pengimplementasian cinta dalam pacaran membuat banyak seseorang dengan berani melakukan zina secara terang-terangan, dari yang berdua-duaan ditempat umum maupun ditempat yang sepi yang tiada kecuali pihak ketiganya adalah syetan yang selalu membisikkan untuk melakukan hal-hal yang keji dan mungkar. Adapun maksud pengertian ta’aruf itu sendiri adalah mengenal yang hanya sekedar untuk mengetaui calon yang akan dikhitbah, bukan malah diimplikasikan dalam hal pacaran.
Ikke Nailul Afifah, Demak: 2014
Jika dilihat melalui kacamata Islam, pengimplikasian cinta yang seperti ini sudah sangat keliru, adanya paradigma/pola pikir yang terbalik mengenai cinta sudah barang tentu perlu adanya revolusi yang menanamkan makna hakikat cinta itu sendiri. Agar umat Islam senantiasa selamat dari perbuatan-perbuatan zina. Dimana sudah jelas mengenai larangan Allah yang termaktub dalam Al Qur’an, yang artinya,
“ dan janganlah kamu mendekati zina…”
dalam firman Allah diatas sudah dijelaskan, bahwa hanya mendekati zina saja tidak diperbolehkan apalagi melakukannya. Kemudian kita juga perlu berpikir mengenai implementasi cinta pada masa kini yang menyerupai perbuatannya orang-orang jahil, ini sangat ironis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar