Malam
kemarin, sepupu saya datang ke rumah, mengetuk pintu dan memberikan bungkusan
plastik hitam. Pagi sebelumnya, saya dan mbak saya, tidak lupa juga, turut
dibawa dua keponakan mungil, berkunjung ke rumah bibi, sekedar silatur rahmi.
Tradisi yang sampai sekarang masih berlaku adalah bakar ikan. Dan tentu, saat
berkunjung, bibi saya selalu menyiapkan beberapa ikan bandeng segar sebagai
ritual tradisi tersebut.
Rumah
paman saya berada di daerah empang, -istilah
kolam ikan- atau tambak. Tidak jauh dari lautan. Empang di daerah tersebut mendominasi daripada persawahan
sebagaimana di daerah tempatku tinggal. Oleh karena itu, kebanyakan
masyarakatnya merupakan petani ikan. Begitu juga pamanku.
Usai
sholat jum’at, kami meng-eksekusi ikan (biar keliatan serem), menyiapkan
peralatan, seperti kayu, batu bata, korek api, dan ilir. Kayu yang kami tumpuk di tengah tengah batu bata yang
tersusun seperti huruf U mulai kami nyalakan dengan korek api dan membiarkan
kobaran api melahap kayu sampai jadi arang. ikan sudah dijepit dengan alat
panggang. Tinggal meletakkan di atas batu bata penyangga saat arang sudah
membara.
Kami
begitu menikmati upacara eksekusi ini. Senyum tulus dan tawa lepas menghiasi
suasana, bercampur dengan asap putih dan panas arang yang dikipasi dengan ilir agar tetap menganga. Kami bertukar cerita dan bercanda dengan asiknya.
Sesekali saling bertanya dan berbagi pengalaman.
Tidak
terasa, ikan demi ikan telah selesai melewati masa-masa sulit mereka di atas
panggangan, kini mereka siap santap. Kamipun pindah lokasi ke dalam rumah untuk
menikmati hasil olah jerih payah kami. Oh iya, bakar-bakaran tadi di pinggir
rumah.
Ikan
bakar lebih cocok dimakan dengan campuran sambal dan kecap serta sedikit
perasan jeruk purut. Nikmatnyaa... sampai-sampai butiran-bitiran keringat kecil
yang menghiasi dahi, lupa kami seka. Saya menghabiskan satu ikan bandeng
sendirian. Duh, nikmatnya.
Sore
hari, saya dan mbak saya, serta dua ponakan yang kecil imut, pamit pulang.
Tetapi bibi tidak ada karena sebelum kami pamit, beliau pergi ke resepsi untuk
kondangan. Setelah salam salaman dengan sepupu saya dan adiknya, kami langsung
otewe nge-gass.
Plastik
hitam yang diberikan sepupu saya berisi beberapa ikan segar. Bibi saya lupa
berpesan kepada anaknya kalau ikan yang berada di dalam plastik buat saya
dibawa pulang. Dan akhirnya dia sendiri yang mengantarkan ikan tersebut ke
rumah saya. Haha... lalu siapa yang salah?
Lho,
, judulnya ikan asin, tapi isinya ikan bakar, nggak nyambung banget kan? Oke,
kalu gitu tak sambungin dulu ...
Ikan
segar di dalam plastik hitam tadi, diolah ibu saya, dibelah dan dibersihkan,
kemudian dilumuri dengan garam. Garam kan asin ya...
Setelah
itu, diletakkan di atas kenteng rumah, dipanaskan dengan sinar matahari biar
kering, istilah simpelnya, dijemur... nah, jadi nyambung dengan judul deh...
hahaha
Rugi
kan baca ini sampai selesai, , tapi jangan pesimis dulu, tidak ada kerugian
dalam membaca apapun, karena kita tidak mengeluarkan modal. Tapi waktu kan juga
modal? Mau membantah gitu kan?. Ya udah deh, diambil manfaatnya ajee .... piss J
*Penulis
Amatir : WM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar