Iklim Perkuliahan

IKLIM PERKULIAHAN

Sumber: Dok. Pribadi
Seperti hari-hari sebelumnya, suasana perkuliahan begitu menjenuhkan seolah tidak ada sentuhan baru. dosen menjelaskan, mahasiswa memperhatikan. Di baris depan pojok kanan, terlihat begitu sayu, terkantuk-kantuk seolah ingin mengungkapkan perasaan yang terpendam lama, “aku sudah nggak kuat, cepatlah selesai!!”.
Baris paling belakang menjadi sarang, kebebasan berkehendak (free well) mungkin berlaku untuk mahasiswa yang duduk di garda ini; berbicara dengan teman, fokus terhadap gadged, bahkan parahnya lagi, ada yang tidur dengan santai kaya di pantai dan slow kaya di pulau. Hanya tepuk tangan riuh yang berhasil mengusik ketenangan mahasiswa yang sedang tidur.
Entah tradisi apa yang berlaku, di tengah tempat duduk, di pelataran kelas, gunjingan dan bisikan terdengar familiar, sikap acuh tak berkepentingan menyelimuti setiap individu, bahkan sudah menyebar pada stadium global.
Presentasi makalah hanya bagian dari ritual jahiliyah belaka. Karena diwariskan secara turun temurun dan belum pernah ada revolusi yang membangkitkan daya kritis mahasiswa dalam belajar. Makalah dibuat sesajen, persembahan pada dosen dan berujung menanti nilai baik sesuai yang diharapkan.
Sesi kritik saran digunakan untuk mencari perhatian, menjatuhkan, dan menunggu namanya dicatat di buku absen sebagai mahasiswa aktif. Pertanyaan dilontarkan sekedar mencari sensasi, menunjukkan eksistensi diri, tanpa diimbangi dengan keilmuan yang memadai dan hanya bermuara pada nilai yang terpampang di yudisium.
Detik terus berlalu, jam kuliah hampir habis di makan waktu, kalam-kalam dosen keluar berantai menutup tugasnya di kelas. Perkuliahanpun selesai. Tapi tak satupun pengetahuan menempel di kepala, hatipun tetap keras, tidak ada ilmu yang menyirami. Apakah akan tetap seperti ini?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar