Dijual Nilai-nilai Moral –Kisah dari Bumi Munafiq-

Judul Buku      : Dijual Nilai-nilai Moral –Kisah dari Bumi Munafiq
Penulis             : Yusuf As-Siba’i
Alih Bahasa     : Ahmad Khotib dan Harits Fadly
Penerbit           : Bening Publishing
Tahun Terbit    : 2005
Jumlah Hal      : 414
ISBN               : 979-99039-5-5
Resensator       : Warjono

Kemunafikan telah menyelimuti dunia, tetapi sedikit sekali yang menyadarinya. Buku yang penulis persembahkan untuk dirinya sendiri ini akan membangunkan kita dari tidur panjang karena telah menelan pil kemunafikan, akan memberikan sedikit percikan api ke dalam otak kita yang kering dan siap terbakar oleh percikan tersebut, dan akan merasa bahwa kemunafikan berjasa besar dalam berlangsungnya kehidupan dunia ini.

Sumber: Dok. Pribadi
Anda mungkin bertanya, kenapa penulis mempersembahkan buku ini untuk dirinya sendiri. Lembaran pertama pada bagian pendahuluan, pertanyaan anda akan menemukan jawaban yang jelas dan penuh dengan kejujuran. Tertulis, “aku ingin menjadikan diriku sebagai orang pertama yang melepas baju kemunafikan di kawasan yang munafik, sehingga aku bisa tampil apa adanya. Diriku yang egois lagi congkak.” Demikian ungkapnya.

Setiap huruf yang tersusun menjadi sebuah kata dalam buku ini akan memaksa mata anda untuk mencermati kalimat. Dan setiap kalimat yang berjejer rapi akan menarik perhatian anda pada akhir paragraf. Adapun setiap paragraf yang anda baca tidak akan memaksa ataupun menarik perhatian anda, tetapi andalah yang akan memaksa diri anda sendiri untuk tertarik pada setiap bacaan yang disajikan dalam buku ini sampai habis. Karena anda adalah seseorang yang munafik yang hidup di atas bumi kemunafikan. Sebagaimana saya, seorang munafik lagi sombong karena menuduh pembaca, dan sayapun seorang pembaca.

Bermula dari pertemuannya dengan kedai aneh yang dijumpai di sebuah wilayah Mesir. Tatapan matanya semakin dipertajam saat membaca papan nama yang menempel di depan kedai tersebut. Dengan pelan dan cermat, berulang-ulang dia baca: “Pedagang Akhlak Grosir dan Eceran.”

Gambaran dalam otaknya dipenuhi dengan spekulasi yang mengada-ada. Penjual ini pasti seorang yang tak waras, gila dan gak jelas, atau seorang penipu berbisa yang ulung, yang mengharapkan orang bodoh mampir untuk membeli barang dagannya. Hingga perbincangan ringan antara penulis dengan penjual Akhlak yang diketahui sudah tua dilihat dari rambutnya yang memutih dimakan usia dan berujung pada keputusan mencicipi barang dagangan tersebut, yaitu meminum serbuk keberanian.

Dalam 24 jam setelah meminum serbuk keberanian kejadian demi kejadian yang luar biasa terjadi. Bermula dari pertengkarannya dengan mertua, sopir bus, opsir petugas, dan seseorang yang sedang memukuli istrinya. Terakhir dia ditangkap dengan tuduhan Zionisme, bertengkar dengan atasannya karena menghina dan mencacinya, mengajukan proyek kebenaran kepada sang menteri yang hasilnya ‘sang menteri meminta agar kemampuan akalnya diperiksa’, kemudian yang terakhir sekali berkelahi dengan demonstran, sehingga dia mendapatkan pukulan dan tendangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Padahal sebelumnya dia adalah orang yang rajin lagi tekun, pendiam lagi penyayang, sopan dan penuh perhatian. Tetapi setelah serbuk keberanian yang berlaku untuk sepuluh hari itu diminum semuanya berbalik dan keberanian menyelimutinya.

Masih sembilan hari tersisa, dan pengaruh serbuk keberanian itu belum hilang dari dalam dirinya. Kemudian dengan segala perjuangan dia datang lagi ke kedai akhlak dan berkonsultasi dengan penjualnya, si orang tua. Dia memohon agar diberikan serbuk kepengecutan agar dia kembali normal. Tetapi serbuk kepengecutan, kemunafikan, riya, cercaan, dan hinaan telah habis tanpa sisa. Yang tersisa hanya akhlak mulia berupa pengorbanan, keksatriaan, ketulusan, dan kesetiaan serta keberanian yang telah ia makan.

Akhirnya, pilihan tertuju pada serbuk keksatriaan saja, untuk menghilangkan pengaruh serbuk keberanian sembilan hari yang tersisa.

Bukan penyelesaian yang dia dapatkan, tetapi masalah semakin melebar dan merajalela, sesaat setelah serbuk keksatriaan itu diminumnya.

Sifat keksatriaan telah menyelimuti dirinya, perasaan peduli, ingin selalu menolong, peka terhadap lingkungan, penuh perasaan dan rasa kasihan kini bersarang dalam hatinya. Banyak yang harus ia lakukan untuk menyalurkan sifat keksatriaannya itu. Mulai dari peduli terhadap penjual akhlak karena sendirian di kedai dengan usia tua, dan dia menyisipkan uang diantara kantong serbuk barang dagangannya. Sampai pertemuannya dengan pengemis, dan organisasi pengemis yang terorganisir dengan baik dan sangat menguntungkan, layaknya seuah pekerjaan menjanjikan. Tetapi sifat keksatriaannya itu terbuang cuma-cuma karena di bumi munafik, sifat penipu telah merajalela, dan kebaikannya telah dimanfaatkan oleh mereka para penipu licik.

Di akhir cerita digambarkan dengan menarik, bagaimana dunia tanpa kemunafikan. Proses pemakaman pejabat yang menggelikan, Para khotib Sholat Jum’at menyampaikan khotbahnya dengan jujur, rasa bosan dan lelahnya karena bertahun-tahun ceramah tidak perubahan, umat selalu kumat-kumatan. Para Politikus wakil rakyat berbicara jujur dalam kampanye, perkataan jujurnya bagaikan orang gila. Para menantu yang benci dengan ibu mertuanya. Koran dan surat kabar tanpa kemunafikan. Dunia dikala itu penuh dengan hiruk pikuk dan keributan.

Semua kejadian itu, karena serbut intisari akhlak telah diceburkan ke dalam sungai nil setelah drama pertengkaran antara penjual dan penulis di tepi sungai karena beda paham -setuju dan tidak-. Masyarakat meminum setiap tetes air dari pipa yang bersumber dari sungai nil, sehingga hilanglah kemunafikan dari diri mereka; dan muncullah, keberanian, keksatriaan, ketulusan, dan kejujuran. Dengan semua akhlak inilah keributan merajalela.

Dan akhirnya, kedua orang yang menyebabkan wabah akhlak ini menyebar dihukum mati. Eh salah, gak jadi dihukum mati, tapi dihukum hidup untuk menyaksikan kekacauan yang terjadi. Karena hukuman yang setimpal adalah melihat kekacauan yang mereka sebabkan. Semoga Allah melanggengkan kemunafikan!


Selamat membaca dan selamat menjadi munafik! Tapi itu pilihan Anda. Dan selamat menyadari kalau isi buku juga menggambarkan tanah air kita, Indonesia. Lumayan buat bercermin.

4 komentar: